teori komitmen publik
mengapa mengumumkan resolusi tahun baru justru bikin kita malas
Pernahkah kita merasa sangat bersemangat di minggu terakhir bulan Desember? Kita duduk di kafe, memesan secangkir kopi, lalu menulis daftar panjang resolusi tahun baru. Kita ingin turun sepuluh kilogram. Kita ingin membaca lima puluh buku. Kita ingin belajar bahasa Spanyol. Lalu, jari kita mulai gatal. Kita memotret daftar itu, mengunggahnya ke media sosial dengan caption yang penuh tekad. Teman-teman kita membalas dengan emoji api dan ucapan semangat yang membara. Di momen itu, kita merasa luar biasa hebat, seolah-olah kita sudah menaklukkan dunia. Tapi mari kita jujur pada diri sendiri. Masuk pertengahan Februari, daftar itu entah ada di mana. Sepatu lari kita kembali berdebu, dan buku-buku baru masih terbungkus plastik. Mengapa pola melelahkan ini terus saja berulang setiap tahun?
Kita tentu tidak sendirian dalam siklus antusiasme sesaat ini. Mari kita lihat sedikit ke belakang. Secara historis, manusia memang makhluk sosial yang sangat haus akan validasi. Sejak zaman berburu dan meramu, diakui dan didukung oleh kelompok adalah kunci utama untuk bertahan hidup. Di era modern, dorongan purba itu berubah wujud menjadi kebiasaan berbagi cerita. Kita juga sering mendengar petuah motivasi klasik yang berbunyi: "Umumkan targetmu ke publik, biar kamu merasa bertanggung jawab!" Logikanya memang terdengar sangat masuk akal. Jika semua orang tahu kita sedang berhemat, kita pasti akan malu kalau ketahuan nongkrong mewah setiap hari, bukan? Kita berasumsi bahwa rasa malu atau tekanan sosial akan menjadi cambuk motivasi yang sempurna. Ini yang membuat kita dengan sukarela mengikatkan diri pada apa yang di ranah psikologi disebut sebagai public commitment.
Namun, mari kita berpikir kritis sejenak. Jika tekanan dari publik itu benar-benar seampuh yang dikatakan para penceramah motivasi, mengapa tempat gym hanya penuh sesak di bulan Januari? Mengapa banyak proyek besar atau bisnis rintisan yang digembar-gemborkan di awal justru mati tanpa suara beberapa bulan kemudian? Pasti ada sesuatu yang terlewat di sini. Apakah ada sabotase tak kasat mata di dalam kepala kita sendiri? Sekitar tahun 1920-an, seorang pelopor psikologi bernama Kurt Lewin mulai mengendus keanehan perilaku ini. Puluhan tahun kemudian, psikolog Peter Gollwitzer melakukan serangkaian bereksperimen yang mengubah cara ilmuwan memahami motivasi. Mereka menemukan sebuah paradoks yang sangat aneh. Ternyata, tindakan paling berbahaya bagi sebuah mimpi besar bukanlah rasa malas itu sendiri. Tindakan paling berbahaya adalah membicarakannya. Tapi tunggu dulu, apa yang sebenarnya terjadi di dalam sirkuit otak kita saat kita memencet tombol post pada resolusi tersebut?
Inilah temuan hard science yang mungkin akan mengubah total cara kita menetapkan tujuan. Gollwitzer dan timnya menemukan fenomena yang mereka sebut sebagai symbolic self-completion. Penjelasannya begini, teman-teman. Otak manusia itu sangat canggih, tapi di sisi lain ia juga lumayan lugu. Saat kita memiliki sebuah tujuan, melakukan langkah-langkah nyata akan membangun identitas kita sedikit demi sedikit. Tapi, saat kita mengumumkan tujuan itu dan orang lain mengakuinya, otak kita mengalami korsleting kecil. Otak menangkap pujian dan pengakuan sosial itu sebagai sebuah social reality atau realitas sosial. Ketika teman-teman menyukai postingan resolusi kita, otak kita melepaskan dopamin. Ini adalah hormon kebahagiaan yang persis sama seperti yang dilepaskan saat kita berhasil menyelesaikan sebuah tugas berat. Hasilnya? Otak kita tertipu mentah-mentah. Ia merasa kita sudah mencapai tujuan tersebut, padahal kita baru sebatas mengetiknya di layar ponsel. Kita mendapatkan kepuasan palsu secara instan. Karena otak merasa tugasnya sudah selesai, motivasi dan energi kita untuk benar-benar berkeringat langsung anjlok drastis. Secara biologis, berbicara telah menjadi pengganti dari bertindak.
Jadi, apa yang bisa kita pelajari bersama dari jebakan neuro-psikologis ini? Tentu, ini bukan berarti kita harus berubah menjadi sosok misterius yang anti-sosial. Namun, ada baiknya kita mulai mengubah strategi. Saat kita punya tujuan besar, cobalah untuk menahan lidah dan jempol kita. Simpan niat itu rapat-rapat untuk diri sendiri. Biarkan rasa tidak puas karena belum mencapai target menjadi bahan bakar utama yang terus menyala di dada kita. Kalaupun kita memang butuh teman untuk menjaga akuntabilitas, pilihlah satu atau dua orang mentor saja, bukan mengumumkannya kepada ribuan pengikut di dunia maya. Kita tidak butuh tepuk tangan untuk sesuatu yang belum kita kerjakan. Mari kita biasakan untuk menunda kepuasan instan itu. Mari kita rayakan hasil akhir, bukan sekadar merayakan garis start. Karena pada akhirnya, kerja keras yang dilakukan dalam diam selalu bersuara jauh lebih lantang daripada resolusi yang hanya berumur satu bulan. Selamat berproses, teman-teman. Mari kita mulai tanpa perlu pengeras suara.